Personale

Artikel - Self Harm

Self Harm, Sebuah Upaya Memindahkan Luka

Saat ini, istilah self harm sudah umum diketahui oleh sebagian besar orang. Namun, banyak yang mengira self harm hanya sebatas melukai diri sendiri menggunakan benda tajam. Padahal, menurut definisi dari APA, self harm adalah tindakan langsung dan intensional untuk menyakiti diri sendiri. Maka dari itu, sebenarnya ada banyak bentuk self harm yang justru seringkali tidak kita sadari, misalnya menyakiti diri sendiri dengan tidak makan apapun selama beberapa waktu, makan makanan berbahaya walaupun sudah tahu konsekuensi buruknya, menjambak rambut hingga luka, minum obat tidak sesuai dosis yang dianjurkan, memukul diri sendiri dengan atau tanpa bantuan benda keras, dan lain sebagainya. 

APAKAH SELF HARM TERMASUK GANGGUAN MENTAL?

Pada DSM V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5), self harm tidak termasuk dalam daftar gangguan mental. Hanya saja, self harm tidak bisa dianggap sepele. Walaupun tidak selalu, self harm dapat menjadi salah satu tanda dari beberapa kondisi yang memerlukan treatment khusus, seperti depresi, bipolar mood disorder, borderline personality disorder, trauma, eating disorder, dan lain-lain. Maka sebenarnya, saat kamu memiliki pikiran untuk self harm, sebaiknya segera cari pertolongan ke orang terdekat atau profesional terdekat. Sebenarnya, kenapa ya seseorang melakukan self harm? Kita bahas di bawah ini yuk!

PENYEBAB SESEORANG MELAKUKAN SELF HARM

Banyak yang mengira, pelaku self harm adalah attention seeker atau caper alias cari perhatian. Hal ini tidak sepenuhnya salah, mengingat beberapa orang memang melakukan upaya cari perhatian dengan cara ini. Namun, apa yang salah dengan mencari perhatian? Justru, jika seseorang mencari perhatian dengan melukai dirinya, maka orang tersebut memang memerlukan bantuan. Sebagai analogi, seseorang yang berteriak minta tolong, bukankah mereka memang benar-benar memerlukan pertolongan?

Selain itu, jangan menggeneralisir semua orang yang melakukan self harm sebagai orang yang caper. Mencari perhatian bukan satu-satunya motif atau penyebab seseorang melakukan self harm. Beberapa penyebab lain diantaranya :

  • Kesulitan mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat

Seseorang yang sejak kecil terbiasa memendam emosi, dilarang marah atau menangis, atau tidak terbiasa berbagi emosi dengan orang terdekatnya, rentan mengalami kesulitan mengekspresikan emosinya. Hal ini membuat emosi yang dirasakan bergejolak dalam hati dan mendorongnya untuk mengekspresikan emosi dengan cara yang “instan” yaitu melukai diri sendiri.

  • Frustrasi

Ketika kita merasakan sakit hati yang berat, seringkali kita merasa sulit untuk mengendalikan dan mencari cara penyembuhan rasa sakit hati tersebut. Maka salah satu hal yang dilakukan adalah memindahkan rasa sakit itu ke fisik kita  yang lebih terlihat dan terasa lebih mudah “disembuhkan” dibandingkan sakit hati yang bentuknya tidak jelas.

  • Rasa bersalah atau rasa marah terhadap diri sendiri

Self harm dapat juga merupakan bentuk hukuman terhadap diri sendiri, misalnya saat kita merasa gagal atau tidak dapat memenuhi ekspektasi diri kita sendiri, maka hal yang sering terjadi adalah kita menghukum diri sendiri.

Apapun penyebabnya, menyakiti diri sendiri bukanlah cara terbaik yang dapat dilakukan loh, Personafren. Kamu layak mendapatkan perlakuan baik, terutama dari dirimu sendiri. Lanjutkan membaca dan coba lakukan cara mengekspresikan emosi yang lebih aman yuk!

CARA MENGATASI SELF HARM

Upaya mengalihkan rasa sakit tidak hanya dengan melukai diri sendiri, beberapa hal yang dapat dilakukan diantaranya : 

  • Menggenggam es batu kuat-kuat
  • Berteriak di balik bantal agar dapat mengekspresikan emosi lebih kuat
  • Mewarnai atau mencoret-coret tangan atau kaki
  • Melakukan hobi, seperti main musik, menggambar, berkebun, dll
  • Menulis journal atau diary, jika tidak dapat menulis, dapat membuat journal digital di notes handphone atau laptop

Jika segala upaya sudah dicoba, namun masih sulit untuk mengatasi self harm, pertimbangkan untuk menghubungi psikolog terdekat. Personale siap membantumu!

Raissa Hadiman, M.Psi., Psikolog