Personale

Generasi Stoberi, Generasi Kreatif, Namun Mudah Rapuh, Benarkah Demikian?

Halo Personafren, apakah kalian pernah mendengar istilah generasi stoberi? Istilah ini sering disebut-sebut belakangan ini loh! Ya, seiring dengan perkembangan teknologi dan pengetahuan, cukup banyak istilah unik yang bermunculan untuk menggambarkan suatu fenomena atau kondisi tertentu, salah satunya adalah generasi stoberi.

Apa yang dimaksud dengan “Generasi Stoberi”?

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan generasi stroberi? Seperti karakteristik dari buah stoberi, cantik diluar, menarik bentuk dan warnanya, indah dilihat, namun teksturnya lunak dan mudah hancur. Untuk itu, generasi stroberi dikatakan sebagai generasi yang kreatif namun cenderung ‘lunak’. ‘Lunak’ disini mengacu pada gagasan bahwa mereka mudah merasa sakit hati, tersinggung, dan mudah menyerah begitu menghadapi tekanan. Generasi yang dirujuk dalam generasi stroberi ini adalah Generasi Z atau Generasi Milenial. Generasi yang lahir antara tahun 1997 – 2002, generasi yang lahir dalam era digital.

Lalu, mengapa generasi Z ini sampai harus dikatakan sebagai generasi stroberi, karena pada dasarnya, anak-anak bertumbuh dalam lingkungan dengan pola kehidupan yang sifatnya instan, mudah, cepat, dan nyaman. Mau makan, tinggal buka aplikasi, tunggu, lalu datanglah pengantar makanan membawa pesanan kita. Mau mencari informasi, bukalah “Mbah Google atau Youtube’, mudah sekali bukan? Tidak perlu berjalan jauh untuk mendapatkan makanan yang kita inginkan. Tidak perlu mendatangi seorang guru atau ahli untuk mendapatkan informasi yang kita perlukan. Perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat pada masa ini cukup ‘memanjakan’ manusia dengan segala kemudahannya. Selain itu, orangtua masa kini sudah banyak yang menyadari dan mempelajari kesehatan mental keluarga termasuk anak-anaknya. Hal ini merupakan hal yang positif mengingat orangtua sebenarnya mengupayakan gentle parenting (pola asuh yang mengutamakan kebagahiaan seorang anak). Namun, jika diterapkan secara tidak seimbang dengan pembentukan ketahanan (resilensi), ketabahan (grit), dan kemandirian yang memadai tentunya pola pengasuhan seperti ini menjadi kurang optimal. 

Terdapat karakteristik positif dan karakteristik negaatif dari generasi stroberi ini. Karakterisitik positif generasi ini adalah kreatif (didukung oleh keluasan informasi yang mereka miliki sehingga mereka pandai mencari alternatif solusi dalam memecahkan masalah), tangkas (mudah menemukan solusi atas persoalan yang mereka hadapi), memiliki kemampuan untuk adaptasi dengan lingkungan barunya (dengan tingginya perubahan, mereka secara tidak langsung dituntut untuk banyak beradaptasi). Di sisi lain, generasi ini juga memiliki karakteristik negatif misalnya mudah menyerah dan lebih sensitif atau mudah tersinggung. Akan tetapi, karakteristik negatif ini tentu saja merupakan hal yang dapat kita kendalikan atau ubah. 

Peranan Orangtua Maupun Pendidik Bagi Generasi Milenial

Sebagai orangtua maupun pendidik, kita memiliki peranan besar dalam membantu generasi anak-anak kita agar dapat menghadapi tantangan yang akan mereka hadapi di masa yang akan datang. Setiap generasi memiliki kesulitan dan bebannya masing-masing, untuk itu, mempersiapkan generasi untuk dapat menghadapinya secara resilens dan mandiri merupakan peran dan tanggung jawab orangtua maupun pendidik masa kini.

Sebagai orangtua maupun pendidik, kita dapat menjadi role model bagi anak-anak, menunjukkan bahwa dunia dimana kita tinggal ini memiliki banyak sekali tantangan dan kita perlu menghadapinya, bukan menghindarinya. Untuk itu, jika anak melakukan kesalahan, anak perlu mendapatkan kesempatan untuk menyadari, memperbaiki, dan mengatasi kesalahannya. Kita sebagai orangtua dapat berperan sebagai mentor ketika anak berusaha mengatasi permasalahannya. Terkadang kita terlalu melindungi anak dengan memberikan bantuan yang sebenarnya belum tentu diperlukan anak. Tentunya, cara mendidik kemampuan untuk menghadapi tantangan ini perlu dilakukan dengan cara yang sesuai dengan usia anak. Penerapan disiplin yang sesuai dengan tahap perkembangan anak (misalnya : anak TK sudah mampu untuk merapikan mainan, menaruh sepatu di tempatnya, memiliki jadwal harian yang konsisten; anak usia SD sudah mampu untuk memahami pentingnya tanggung jawab dalam mengerjakan tugas sekolah dan mempersiapkan diri untuk ulangan yang akan dihadapinya; sedangkan untuk usia remaja sudah dapat kita berikan kesempatan untuk mengambil keputusan secara mandiri, orangtua berperan sebagai mentor untuk membantu memberikan masukan ketika diperlukan). 

Anak dengan usia yang lebih muda (misalnya usia pra-sekolah) mereka sudah mulai memahami aturan. Terapkanlah konsep reward dan punishment agar anak lebih mampu untuk mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan dan pilihan yang ia buat, anak mampu belajar untuk mengarahkan perilakunya agar memperoleh tujuan yang ia harapkan. Praktisnya, ketika anak melakukan kesalahan, kita membantu anak untuk memahami kesalahan yang dilakukan,bahkan menegur jika perlu dengan hati-hati tanpa melukai hati anak. Selain itu, ketika anak menghadapi masalah atau tantangan, berikan kesempatan kepadanya untuk memahami masalah yang dihadapi, ajaklah mereka untuk berdiskusi mengenai masalah tersebut mulai dari penyebab masalah tersebut agar anak mampu membayangkan solusinya nanti. Berikan kesempatan pada anak untuk berpikir mengatasi masalahnya, berikan gambaran alternatif-alternatif keputusan ketika anak merasa bingung, membantu anak membayangkan dampak positif dan negatif dari setiap alternatif pilihan tersebut, dan pada akhirnya ‘dorong’ anak untuk berani dalam mengambil keputusan untuk mengatasi tantangan tersebut.

Dengan cara demikian, kita sudah membantu anak memiliki resiliensi agar berani menghadapi kesulitan bahkan kegagalan dan berani untuk bangkit kembali dari kegagalan tersebut. Sehingga, kelak ketika anak menghadapi kegagalan, ia akan lebih mampu untuk move on dan melanjutkan perjalanannya. Dengan mental yang Tangguh, disertai kreativitas dan kemampuan adaptasi yang tinggi, merupakan keterampilan yang sangat diperlukan untuk semua manusia agar dapat bertahan dalam berbagai lingkungan kehidupan dan meraih kesuksesan di masa yang akan datang. Optimis bahwa anak memiliki kecerdasan, kemampuan, dan ketahanan untuk mengatasi masalah yang akan dihadapi selama periode kehidupannya. 

Kartika Prananto, M.Psi.,Psikolog